April 2019

Senin, 22 April 2019

Antakara Lanarnawa








Di sebuah hutan lebat yang gelap seeokor singa melahirkan anaknya, suasana penuh suka cita saat itu, karena sang buah hati terlahir kedunia, ayah dari anak singa ini mengaung sekeras mungkin untuk meluapkan rasa bahagianya, namun terkadang rasa bahagia yang terlalu berlebihan justru berdampak buruk, yang tidak terfikirkan saat itu adalah aunganya justru mengundang gerombolan singa muda yang masih  gagah dan lapar menghampirinya, memang hukum rimba selalu berkata yang kalah yang menghamba, di bawah dekapan ibunya yang hangat anak singa tersebut melihat dengan mata kepalanya sendiri ayahnya diburu dan di lahap habis oleh gerombolan singa tersebut, matanya memerah dan menangis tak tega lalu ia berusaha menyapa ibunya dengan isyarat yang serba terbatas namun ia juga melihat bahwa ibunya tidak lagi berdaya karena telah lelah dan susah payah melahirkanya dan saat itu juga ibunya meninggalkan dia sendirian di dunia.
Sang anak singa ini terlahir tanpa nama, ia memberi nama bagi dirinya sendiri “Antakara Lanarnawa”, yang berati matahari dan samudra, ia berharap ia mampu menjadi kehangatan yang kasih bagi sekitar dan menjadi samudra yang mampu menampung banyak macam warna, antakara terus saja berkelana ia berpuasa untuk memakan daging secara berlebihan kalaupun ia makan itupun ialah daging bekas buruan sebangsanya dan ia selalu mengurangi porsi untuk membiasakan agar tidak berlebhan dalam hal tersebut karena ia tercipta memang menjadi seekor pemangsa daging jadi ia tidak bisa lepas dari hal tersebut namun ia bisa berlatih untuk mengatur porsi.
Suatu ketika antara merasa kesepian dan tak punya kawan ia selalu berkelana sendiri setiap harinya, diri yang diselimuti rasa kesendirian itu yang menggerakan hati Antakara untuk berteman dengan banyak hewan tidak perduli apapun jenisnya, saat ia melihat seekor keledai yang sedang makan Antakara menghampirinya dan ingin berbincang dengan keledai tersebut namun sang keledai malah lari terbirit-birit melihat seekor singa menghampirinya, ia berfikir “ah sudahlah, mungkin ia takut pada sosok singaku ini”, dalam hatinya bersedih dan melanjutkan  perjalananya. Ditengah padang rumput yang hijau ia bertemu seekor domba dan ia masih berusaha menyapanya dengan aungnya itu, si domba juga lari secepat mungkin karna ia sangat takut sang singa akan melahapnya, hatinya bertambah sedih dengan sedemikian penolakan-penolakan yang datang padanya.
Senja sedikit-sedikit mulai tenggelam dan hanyut, antakara duduk di sela-sela rerumputan tinggi yang mengitarinya, lalu tibatiba ada seekor kadal tua menyapanya,”hey nak, sore-sore begini tidak baik melamun seperti itu”, spontan antakara terkejut mendengar sapaan dari sang kadal, antakara membalas dengan ucapan,”anda tidaktakut dengan seekor singa sepertiku?”,”aku ini seekor kadal kau tidak mungkin memakanku, lagi pula mana mungkin kau sanggup mencengkramku, aku ini terlalu kecil untuk seekor singa sepertimu”, ucap si kadal tua, belum sempat dijawab oleh antakara kadal ini kembali bertanya kepada antakara,”oh iya siapa namamu?”,”namaku antakara lanarnawa”, jawab antakara dengan senyuman,”arti dari namamu bagus juga, matahari dan samudra!, siapa yang memberi nama itu? Bagus sekali”, pujian sang kadal tua,” bagaimana kau bisa mengetahui arti namaku?”, pertanyaan heran dari antakara, sikadal tua tidak menjawab dan hanya membalas dengan senyuman,”kalau soal nama itu aku sendiri yang memberikan nama itu karena orang tuaku tidak sempat memberiku nama, ia lebih dulu meninggalkanku setelah aku melihat dunia”, antakara menjawab dengan muka penuh kesedihan,”tidak usah bersedih, terkadang apa yang menjadi takdir tuhan memang menyebalkan tapi percayalah semua itu hanya bentuk dari wajah tuhan untuk menuntunmu menjadin lebih kuat”, saut sang kadal tua itu, “kruuuuuuuuuuuuuuk kruk”, terdengar suara perut lapar antaraka, kadal tua itu kembali bertanya,”tampaknya kau lapar, kenapa kau tidak berburu saja seperti kawan sebangsamu?, dari pada kau disini hanya untuk merenung seperti ini”,”aku sedang berpuasa hari ini, aku berusaha mengurangi porsi makan dagingku”, jawab antakara yang membuat kadal tua ini sedikit terkejut,”ahahahahaha kau ini aneh-aneh saja, kau ini diciptakan untuk memagsa daging yang segar, kau punya kecepatan lari yang luar biasa, kau punya cengkraman yang erat dan kau punya taring yang tajam,  itu bertanda kau dilahirkan untuk memangsa dan berburu binatang lain”, tawa sang kadal tua sambil memaparkan sesuatu, antakara malah menjawab dengan jawaban yang mengherankan,”aku tahu aku ini aku punya semua yang kau sebutkan tadi aku juga tahu aku adalah raja hutan, tapi yang ku percaya saat ini hanya raja pengecut sajalah yang memangsa dan menikam yang lebih lemah dengan menggunakan kekuatan yang di berikan oleh tuhan”, perbincangan mereka terus berlanjut hingga larut malam dan merekapun memutuskan untuk mencari tempat tidur.
Keesokan harinya kadal tua terbangun dari tidurnya dan melihat Antakara berdiri tegak menghadap matahari pagi, “hey nak sedang apa kau disitu?”, pertanyaan kadal tua di pagi itu, “lihatlah! Matahari esok itu sangat indah, ia mampu menghangatkan diriku saat pagi hari, aku ingin menjadi seperti dia”, jawab Antakara yang masih menghadap ke arah matahari, kadal tua mendekati antakara dan duduk disamping Antakara,”teruslah menolong semua makhluk Tuhan tanpa terkecuali, buang semua dengki dan prasangka buruk dari hatimu, maka kau akan benar-benar menjadi Antaraka lanarnarnawa, ikutlah denganku, aku akan membawamu ke suatu tempat yang indah”.
Antakara dan kadal tua melakukan perjalanan ke suatu tempat yang dijanjikan kadal tua, di sebuah desa yang bernama Ajusnowo ia melihat gerombolan singa yang sedang mengeroyok seekor babi, tanpa pikir panjang antakara menyuruh kadal tua untuk naik ke punggungnya dan berpegangan dengan erat dan ia langsung berlari dan mengejar gerombolan singa Antakara mencekram babi itu dan membawanya lari, hingga di suatu tempat yang aman, babi itu melihatkan wajahnya yang masih ketakutan dengan keadaan dan tak mau berdekatan dengan Antakara, lalu kemudian kadal tua itu turun dari punggungnya dan menyapa babi yang takut tersebut,”tenanglah, anak singa ini baik, jangan takut ia tadi berusaha menyelamatkanmu dan berhasil, tenanglah”, namun tiba-tiba babi itu lari dengan begitu kencang dan menghilang, hingga hal tersebut membuat Antakara bersedih,”kenapa aku susah sekali mendapatkan kawan?, bukankah aku sudah berbuat baik kepada mereka?”, “tidak semua hal baik selalu di hargai seseorang belajar untuk merelakan setiap hal baik memang sangat di perlukan dalam hidup kita, kau di ciptakan sebagai seekor singa yang patut titahmu menjadi raja hutan, ini adalah jalan hidup yang harus kau jalani, namun selalu ingatlah pesanku berbuat baiklah kepada siapapun”, ucap panjang kadal tua kepada Antakara, wajah Antakara yang semula murung menjadi segar kembali.
Mereka melanjutkan perjalanan dan sampailah Antakara pada suatu tempat yang dijanjikan kadal tua tersebut.


jakiaku
23 April 2019